Lately I've always been reminding myself to feel more content each day. For me, it is better to feel content than being happy. Happy is more an outcome when contentedness is in the inside.
Even my friends notice the difference.. Hm jadi, lagi-lagi bertemu di minggu neraka. Tapi entah kenapa, hati dan pikiran jauh lebih tenang walaupun yang namanya buru-buru tiap pagi sih tetep. Rasanya ingin nampar diri sendiri karena dulu udah janji untuk lebih mempersingkat waktu untuk siap-siap, jadi jam 7.45 udah bisa berangkat dan gak harus buru-buru. Tapi.. sekarang kerjaannya telat mulu. Karena sekarang waktu untuk belajar adalah dipagi hari, ketika tubuh sudah lumayan merasa segar direstart sama tidur. Walaupun tidurnya juga semi-gak-bener, tapi lumayan lah ya, pagi udah bisa fokus. Dan kadang 'keasikan belajar' jadi telat siap-siap untuk berangkat ke kuliah..
Oke cukup intermezzo curhatannya.
Some words below is difficult to express from the tangled words organised by my Broca
Sekarang, masuk ke topik yang lagi-lagi memang sesuai sama perkembangan diri. Memang betul, gue (dan teman-teman) lagi di tahap late adolescence. Dan yang paling bener dari semua teori itu adalah, pembahasan mengenai postformal thought menurut Piaget. Sebenernya sih, teori itu udah masuk ke young adulthood, tapi.. ya udah bentar lagi kan ya?
Dan secara psikososial nya Erikson, entahlah, apakah gue udah menemukan self identity atau belum. Hidup memang benar-benar lagi overlap antara transisi adolescence dan young adulthood. Gue juga pernah ngebahas ini sedikit dipost lama, gue pernah bilang mengenai ketakutan gue akan ketidakmampuan menjadi independen dan menerima tuntutan dari lingkungan. Ya, timing-of-events theory/ socio-clock. Nanti akan ada masanya gue (dan kita semua) memasuki adulthood, di mana harus mulai perlahan meninggalkan ketergantungan dari orang tua, dan berkomitmen -- entah pada karir atau nantinya keluarga.
Balik ke masalah postformal thought, nah.. postformal thought adalah ketika
tipe pemikiran dewasa yang tergantung pada pengalaman subjektif dan intuisi, serta logika; memiliki ruang itu hal-hal yang ambigu, tidak pasti, tidak konsisten, kontradiksi, tidak sempurna
itu diambil dari rangkuman Psibang credits to kakak-kakak 14 dan buku Papalia & Martorell, hehe. Ya, jadi secara kognitif gue merasa gue jauh lebih matang, walaupun secara tingkah laku gue kurang yakin sebenernya. Gue selalu berusaha menjadi manusia yang eager to learn, walaupun beban sehari-hari memang dibatasi oleh fisik ini. Bahkan ketika ingin baca buku-buku aja jadi sulit karena gak ada waktu..
Pemikiran gue menjadi jauh lebih fleksibel sekarang.. Dan gue berusaha juga untuk meregulasi emosi. Ah, diri ini sangat ingin belajar lebih jauh mengenai dunia ini, ingin mengalami perasaan yang sama seperti saat membaca Supernova-nya Dewi Lestari, ingin bersemangat kembali seperti ketika belajar mengenai sejarah ilmu psikologi, dan ingin merasa content seluruhnya dan seutuhnya.
Oh iya, ada suatu hal menarik yang baru gue sadari, ya tentunya menurut persepsi gue. Bahwa manusia itu kompleks. Definisi kompleks, se-kompleks-kompleksnya kompleks adalah kita sebagai manusia. Berbagai hal mempengaruhi kita mulai dari hal-hal yang bersifat bawaan sampai ke hal-hal yang berasal dari lingkungan dan pengalaman. Jujur, rasanya ingin nulis buku harian kayak dulu lagi.. Tapi lagi-lagi gak ada waktu.
Hebat ketika gue melihat bahwa tiap individu tentu memiliki rahasianya sendiri, memiliki 'jangkauan perasaan' nya sendiri, dan tiap manusia memiliki 'kedalaman' yang berbeda-beda.. Mungkin 'kedalaman' yang gue maksut adalah, semacam frekuensi mungkin ya? Yang membuat satu sama lain tertarik, merasa cocok dan nyaman, merasa terhubung dan sebagainya. Walaupun, kadang memang manusia itu egois dan tidak sadar akan adanya keberagaman jenis manusia, sehingga hanya ingin dipahami namun sulit untuk memahami. Sejujurnya gue juga merasa sebagai manusia, masih kurang ...dalam.
Manusia itu juga punya kecenderungan untuk thanatos, seperti kata Freud. Dan itu sangat sangat sangat benar. Kasarnya, ingin mati. Padahal tidak tahu apa yang dihadapi setelah kematian. Entah kehampaan, kenihilan, atau apa.. Harus merasakan sebelum mengetahui? Tapi ya tidak mungkin (mungkin, tapi belum mau -- setidaknya untuk saat ini).
Kadang gue merasa hidup juga terlalu fana. Salah satu bentuk destruktif adalah dengan, misal, menggunakan rokok. Dengan rokok ada bagian dari diri yang ingin dikikis karena ketidaksanggupan mental menahan beban pikiran -- lalu berlarilah ke rokok. Dan rokok, sebagai alat, tidak salah sama sekali. Manusia yang menghisapnya pun juga tidak salah. Dan bukan salah industri rokok pula, atau bukan salah Tuhan. Menurut gue, salah naluri manusia untuk menyakiti diri sendiri lah yang salah. Tapi lagi-lagi, naluri manusia juga gak salah. Bingung ya?
Ada hal lain juga yang terlintas dan sekarang coba gue terapin terus dalam menyikapi segala hal. Sebenarnya dulu juga udah pernah punya niatan untuk menerapkan pikiran ini, tapi sulit juga dalam kenyataannya. Jelas-jelas kita hidup dan survive sejauh ini karena adanya sensasi dan persepsi kita, yang sangat-sangat-sangat subjektif. Persepsi tiap individu itu sangat bisa berbeda layaknya dua kubu ekstrim, dan cara pandang dan pola pikir itu berbeda-beda. Mungkin karena itu, gue berusaha kenal sama berbagai 'aliran cara pandang manusia' hahaha kayak SAP. Ya intinya, perspektif orang itu berbeda dan memang mungkin ada tingkatannya. Beda peer, beda sudut pandang. Dan seru juga untuk mengkontradiksi berbagai pemahaman yang udah diketahui selama ini. Untuk mengeluarkan argumen yang mencoba melihat sebuah hal itu dari keseluruhan, bahwa suatu hal itu pasti minimal ada dua sisi yang berbenturan.
Sebenarnya juga, gue sekarang jadi cenderung mengelompokkan manusia akhir-akhir ini. Gue udah berasa sombong, overconfidence. Berasa hebat juga karena bisa berusaha ngelihat semuanya dari berbagai sudut pandang. Intinya, gue semacam mengelompokan orang yang pikirannya dangkal + moralnya dangkal -- ya pikirannya gak jauh-jauh dari hal bersifat materil, hal-hal bersifat ... diri sendiri, yang gak bisa lihat perspektif lain deh.Berseberangan sama individu yang memiliki idealisme tertentu, memiliki prinsip lah ya intinya, dan setidaknya juga berusaha melihat dari berbagai sudut pandang dan tidak memaksakan opini dirinya.
Kemarin baru saja berlangsung sesi diskusi program kerja di BEM, dan hati mungkin gemas melihat ke-apatisan manusia-manusia di sekeliling gue, entah apa yang harus gue lakukan sebenarnya. Tapi ya yasudah, karena gue berusaha memahami berbagai sudut pandang juga, resikonya adalah harus menelan juga berbagai pandangan dan kepentingan lain. Masalah selera dan cocok-cocokan saja sebenarnya.
Aku tidak ingin mati digerogoti oleh suatu hal yang setengah hati dipaksakan. Aku ingin merasakan hidup, ingin bermain selagi ada waktu yang tersisa. Berusaha mengenal sebanyak mungkin manusia, namun tetap menyisakan waktu untuk diri sendiri. Aku ingin bebas, namun aku ingin miliki tempat yang tenang untuk bersandar. Untuk sekedar tertawa lepas dan bercerita mengenai kehidupan sehari-hari. Seseorang yang membahagiakan hati --jikalau memang ada yang namanya hati. Ingin teman diskusi, yang pikirannya mampu membuat diri ini terkesima dan kagum setiap harinya. Maafkan diri manusia yang satu ini, karena memiliki angan yang terlalu tinggi.
Selamat membuka mata.
Kalau kata Dallas Clayton, "enjoying the journey". Sudah dijadikan wallpaper hp, hehehe.
Dan lagi-lagi memang, tulisan gue ini sangat tidak terarah. Berusaha menulis dengan jalur dan arah yang benar, biar idenya tersampaikan, tapi rasanya di tengah-tengah selalu ada suatu hal yang muncul dan membuat berbagai untaian kata yang tadinya terbelenggu itu makin sesat menjadi-jadi. Tapi tak apa, media (blog) ini memang lebih untuk katarsis diri yang egois ini daripada untuk menjadi sarana penyampaian ide.
Ada tambahan dari twitter Kurt Vonnegut: How nice -- to feel nothing, and still get full credit for being alive.
Semoga (diriku) menemukan identitas diri, dan juga mungkin.. intimacy. Sama self-actualization juga kalau kata Maslow.
Cheers!
Deb

0 comment:
Post a Comment