Well it's far to the end of Ramadan.. akhirnya dapet ide dalam bagaimana seharusnya gue mengorganisir pikiran yang tak beraturan ini dalam sebuah post di blog. Bagaimana akhirnya, setelah sekian lama mau nulis tapi gak tau 'apa' (sehingga gak tau 'bagaimana'-nya pula), bisa akhirnya nulis ini. Nulis ini gue anggap bukan sebuah akhir, tapi bagian dari proses, entah prosesnya menuju apa -- tapi dengan menulis ini, ada beban yang gue harap bisa terangkat, dan mungkin kontennya sendiri sudah lama berhirukpikuk di pikiran tapi susah banget untuk ditransformasi ke dalam tulisan. Walaupun ini juga masih bagian, tidak utuh. Ya, tulisan ini bisa dibilang susah susah gampang untuk dibuat.. Menemukan rasa nyaman dari menulis di blog ini. Terima kasih ya Erik Erikson, atas penjabaran konflik tahapan self-identity vs role confusion dan intimacy vs isolation. Terima kasih juga untuk Marcia, atas penjabaran crisis vs. commitment nya.
"You are beautiful because you let yourself feel, and that is a brave thing indeed"
- Shinji MoonTulisannya akan terbagi dalam beberapa bagian, dibagi berdasarkan untuk siapa tulisan ini ditujukan. Pada tiap bagian, akan ada permintaan maaf dan rasa syukur. Mungkin kedua hal yang bisa dibilang standar untuk diucapkan di setiap 'sesi curhat' itu sebenarnya memang hal yang benar-benar ingin gue ungkapkan? Tapi karena gak berani menyampaikan secara langsung, jadi lewat sini. Dan ya, tiap orang punya penilaiannya masing-masing dalam mempersepsi suatu hal, at least that's what I believe
Kepada keluarga biologis;
Terima kasih karena selalu Deby repotin. Terima kasih karena masih mau menampung Deby selama ini. Terima kasih karena masih menerima Deby walaupun tuntutan dari kalian banyak yang gak Deby turutin. Terima kasih karena masih mencukupi Deby dari segi material. Terima kasih karena terus mendoakan Deby. Terima kasih karena selalu sabar. Terima kasih karena setidaknya sudah berusaha menjadi tempat yang nyaman walaupun Deby yang gak bisa ngerasain itu. Maaf karena kalian gak akan bisa mengerti Deby sepenuhnya. Maaf Deby gak bisa terbuka. Maaf karena Deby suka egois. Maaf karena Deby gak bisa merasakan rumah ini seperti rumah lagi. Maaf karena selalu menjadi beban. Maaf karena Deby sering gak sepikiran. Maaf karena Deby banyak mau, dan sering gak tau terima kasih. Maaf Deby gak bisa menjadikan rumah ini menjadi tempat untuk pulang.
Kepada teman kuliahku (K, K, A, N, A, R);
Terima kasih karena selalu menemani di hari-hari perkuliahan. Terima kasih karena dengan caranya masing-masing kita bekerjasama untuk menyelesaikan suatu masalah. Terima kasih karena selalu.. selalu mampu menghibur dengan bercanda. Terima kasih karena selalu memacu gue menetapkan standar yang tinggi dalam melakukan sesuatu. Terima kasih karena tidak memaksa. Terima kasih karena sudah mengerti tanpa harus bercerita. Terima kasih karena selalu peduli. Terima kasih karena selalu ingin membantu, maaf gue sendiri yang gak membiarkan kalian membantu. Maaf gue sering kali mikir gak baik tentang kalian. Maaf gue belum bisa percaya sama kalian, bukan salah kalian sama sekali. Maaf sering banyak gak sependapat sama kalian tapi gue memilih untuk dipendam aja, jadinya gue sering melampiaskan marah -- lagi-lagi ke kalian. Maaf gue belum jadi teman yang baik, maaf belum bisa mengcomfort kalau lagi sedih. Maaf gue seakan kabur kalau kalian ada yang mulai cerita, sepertinya gue emang belum siap menjadi tong sampah yang baik. Maaf karena gue belum bisa menjadi pendengar yang baik.
Kepada teman SMAku (F, N, V, D);
Terima kasih karena walaupun komunikasi gak sesering itu karena kesibukan kita -- kalian selalu mengingatkan gue akan masa-masa di mana sebuah batu pondasi diletakkan, di mana rumput baru ditanam dan akarnya mulai tumbuh. Terima kasih karena kalian ternyata masih ada dan bertahan. Terima kasih karena gue akan selalu menemukan kenyamanan di antara kalian. Terima kasih karena tetap membantu. Terima kasih atas segala saran jujurnya. Maaf gue yang sering gak peduli sama kalian, lagi-lagi karena sibuk. Maafkan gue yang sengaja gak mau tau kadang kabar kalian lagi ngapain karena.. mungkin, inginnya lebih suka diceritakan secara langsung saja. Maaf gue hanya meluangkan waktu sedikit untuk kalian. Maaf belum bisa jadi teman yang baik dan teman yang selalu ada.
Kepada TI;
Terima kasih karena telah memberikan kesempatan untuk tumbuh di lahan yang berbeda. Terima kasih karena semuanya saling berusaha bekerja dengan maksimal, dan bekerjasama dengan maksimal pula. Terima kasih karena berusaha menjadi tempat yang nyaman pula -- untuk aku yang berbeda secara angkatan. Terima kasih atas berbagai saran-saran dan ajarannya, aku belajar banyak. Terima kasih karena telah memberi kepercayaan. Sekali lagi, terima kasih telah memberi kesempatan untuk berjuang bersama dengan kalian, orang-orang hebat yang rela berkorban. Maaf belum bisa terbuka juga dengan TI-ku. Maaf inisiatifku masih kurang. Maaf kerjaku juga masih belum maksimal di banyak bagian. Maaf aku belum sesuai harapan dan ekspektasi. Maaf aku masih berusaha menyesuaikan diri.
Kepada PMBM (terutama KK), PBM;
Terima kasih karena telah menerima kenekatan gue dalam menjadi pemimpin walaupun beberapa dari kalian ada yang senior, dan kebanyakan seangkatan dengan gue. Terima kasih karena kalian mungkin banyak yang sebenarnya ragu -- tapi memilih untuk menyembunyikan itu dari hadapan gue (this is good for me temporarily, but for the long term i think this isn't really good). Terima kasih karena kalian lebih rela berkorban, mengeluarkan waktu dan tenaga untuk memfasilitasi dan mengapresiasi kontingen. Terima kasih karena lagi-lagi kalau muncul nama gue, terasosiasi sama kerjaan. Terima kasih karena selalu berusaha... selalu, berusaha bekerja dengan maksimal walaupun kurang mendapatkan apresiasi. Maaf gue yang mungkin baru bisa sebatas mengingatkan, belum bisa memberi memotivasi. Maaf gue belum bisa semaksimal itu dalam mendukung dan menjaga well-being kalian. Maaf jika selama ini gue sering gak jelas, belum bisa membantu perkembangan kalian dengan maksimal, dan belum menjadi pemimpin yang baik dalam memberi arahan. Maaf kalau ternyata gue gak bisa membantu kalian, terkadang.. gue yakin kalian mampu menyelesaikan masalah dengan mandiri. Maaf karena gue seharusnya bisa menjadi sosok yang melindungi kalian, tempat bertanya di antara kebingungan, dan gue masih berusaha dalam menjadi sosok ideal itu. Maaf kalau beberapa dari kalian merasa gue sangat terlalu task-oriented. Lagi-lagi, mungkin gue akan beralasan, karena kita sama-sama belajar di sini.
Kepada D&K+N;
Whoa I'm really sorry that I let my guard down that night and you guys have to listen what's on my mind, unfiltered, and taking care of me. Maybe the pile has been so heavy and I just need someone to listen, but me with my denial-self it's still hard to believe that I let myself telling you all about my feelings. It's a big deal for me. Sometimes I wonder, do I regret telling those rants to you?. Well, honestly, I do regrets some. I'm sorry if personally, somehow, I just.. can't listen to all the recent drama. It influences me on my personal level, I guess that is because I'm still this selfish person who can't put away her own problems when listening to others'. Sorry I can't still be helpful enough. Sorry that it's probably me who made the problem in the first place. Anyway, thank you for listening. Even I can't fully trust you anymore, and feel manipulated (personally). So let's just forget it, shall we? Wishing for the best for all of ya.
Kepada d.;
At first, I was scared. I think everything as a game and never take it too deep. But thank you for everything you made me feel, you made me feel like I'm just a human after all. Human with its flaws. Human with its ups and downs. Adapting to you never been that easy, there were internal struggle here and there. I am sorry if the way you mean something to me, scared you away.. or you can actually took it for granted? It's your choice. Sorry if you have some expectations about me and you did not found it in me. Like I said on the snowball, I will always supports you, and I'm all ears. Anyway, terima kasih ya atas sebutan 'cewe ga normal'-nya, sejujurnya gue tersanjung lho?
Hm, lets cherish the moment while it lasts
Kepada diriku;
Here comes the hardest part. Terima kasih karena setiap kali merasa gak mampu, selalu mengingatkan diri untuk; keep going, keep going. Terima kasih karena berani mengemban suatu tanggung jawab besar yang beresiko. Terima kasih karena berani keluar dari comfort zone. Terima kasih karena selalu punya keinginan untuk belajar. Terima kasih karena sudah banyak rela berkorban. Terima kasih karena sudah lebih berani untuk membuka diri dan tidak pergi begitu saja. Maaf karena gak bisa meregulasi pikiran dan emosi sebaik dulu. Maaf karena seringkali kalah sama diri sendiri, kembali merusak. Maaf, terutama untuk fisik, karena tidak pernah diprioritaskan. Maaf selalu memikirkan segala konsep gak ada habisnya. Maaf sangat susah untuk mengeksekusi sesuatu. Maaf terlalu rumit. Maaf sering harus berpura-pura. Maaf karena kadang mudah percaya. Maaf sering mengelak. I am sorry because the way I think is not receptive at all, you can give all you can give. Maybe this isn't healthy and doesn't put myself first, but it does feel right, even I don't really know what to prove. I am sorry for not letting myself recharge for awhile, and feel guilty afterwards. It is okay to be not okay. I'm sorry for not treating myself the way it should. I'm sorry for all the wars I've made in my head.
Sebenarnya masih banyak sih manusia (ugh human relationships, lol) yang seharusnya di tulis....
Sweet, rollercoaster ride. It's just a piece of problems but maybe this is the right way to experience, to learn. Even staying constant is a battle, at least I can say that I'm a learner of the universe. Growing and healing - and help others to heal and grow as well. Another thing I learn these past months; a person can be both good and bad, and nothing is wrong about that.
Soooooo here's a line from one of my fave person on the internet, Dallas Clayton!
Enjoy the journey :-)

0 comment:
Post a Comment