Sunday, October 22, 2017

thoughts on things: demo

ya! jadi sekarang lagi panas panasnya lagi dunia berkat demo 3 tahun pemerintahan jokowi-jk oleh mahasiswa. terus sebagai manusia yang pernah 4 kali ikut aksi, pengen menggambarkan aja motif dari ikut aksi dan segala hal lainnya terkait aksi, saat gue berada dalam aksi itu dan sekarang saat sudah di luar dunia aksi karena fokus ngurusin internal fakultas dulu (hahaha alesan lu deb)

jadi begini, gue gak tau sistemnya gimana kalo di fakultas lain/universitas lain. tapi jalur yang bener sampe bisa ngadain aksi sih setau gue memang harus ada kajiannya dulu. dikaji dulu sebenernya, apa sih yang menjadi masalah? sudah tau nih di kajian gap antara ideal dan realitanya, lalu dibentuklah tuntutan. iya tuntutan yang biasanya ada beberapa nomer itu. terus udah tau tuntutan, baru coba mengkontak pihak yang terkait, atau istilahnya stakeholder.. orang yang punya kuasa dalam membentuk kebijakan. terus kalau udah direspon dan kita bisa dateng untuk audiensi, alhamdulillah. tapi kalau enggak, mungkin baru memakai cara aksi. karena selama ini gue ikut aksi, semua tujuannya adalah untuk audiensi. audiensi sendiri sebenarnya adalah diskusi, atau ya menyampaikan aspirasi dalam ruangan yang lebih formal aja ke pihak yang mampu meneruskan tuntutan ke pihak yang terkait. karena biasanya audiensi gak akan dihadiri langsung sama pemimpin yang diharapkan, tapi sama kaki tangannya aja. alasannya utamanya gak dateng apa ya gue gak tau, sibuk salah satu alasannya sih pasti. tapi udah bagus kalo ketemu perwakilannya aja karena berarti masih ada pintu yang terbuka.
nah baru tuh dari audiensi itu, nanti ada perjanjian atau pernyataan, dan selanjutnya bagaimana bisa difollow up dari sana. oh iya, untuk aksi pun gak sekedar dateng lah.. pake izin dulu juga ke kepolisian. dan aksi pun ada aturan-aturannya.

jujur, gue gak tau kalo misal mungkin memang ada demo di luar sana yang didukung sama partai oposisi lah, yang dapet nasi bungkus dan sebagainya lah. yang pasti mereka memperburuk esensi demo dan munafik. apalagi aksi yang rusuh dan keluar kata-kata kotor gak beradab. tai babi aksi macem itu. tapi selama ini gue ikut aksi, gak pernah ada yang ngasih nasi bungkus, gak pernah karena disuruh.. selama ini ya karena ingin menyampaikan aspirasi dan kritisi ke pemerintah berdasarkan hasil kajian, dan terkadang caranya adalah dengan melakukan aksi--which means, harus membawa massa biar didenger. sesimpel kayak lo mau protes ke guru yang sewenang-wenang deh, emang berani kalo yang merasa resah cuma lo doang? pasti nyari temen kan? biar gurunya juga ngerasa 'keprotes' beneran karena banyak yang protes.

"emang gak ada cara lain apa selain demo demo begitu?"
nah sekarang kita masuk ke bagian cara menyampaikan aspirasi. pernah kebayang gak sih? cara menyampaikan aspirasi ke pemerintah itu lewat mana? jujur gue gak tau cara lain kalo gak lewat audiensi dan aksi. harusnya lewat partai ya? lewat sosial media ya? petisi? apa harus dikunjungi pas lagi keliling dulu baru ngomong, apa gimana? aksi tuh juga gak melulu orasi dan teriak-teriak depan istana kok. aksi yang selama ini pernah gue ikutin sebagian besar aksi kreatif. ada puisi, ada drama teatrikal dan sebagainya. iya gue tau pasti banyak yang kontra sama aksi karena dianggap gak efektif. tapi sejujurnya gue udah gak tau juga cara yang efektif tuh cara apa lagi.
apakah gue harus menjadi pemimpin dulu buat memberi kritik dan membawa perubahan? ya enggak juga.. (walaupun nanti mungkin iya)
ini negara demokrasi, kan? kalo emang masih demokrasi, kritik ya harus bertanggung jawab (yang artinya, tidak anonim) dan kalau punya landasan dan urgensi yang kuat, ya kenapa gak boleh disampaikan?
kalo ketemu cara lain yang lebih efektif dari audiensi, nah boleh tuh dicoba. karena kalo kita ngomongin politik diskusi sana sini berdebat harusnya ini itu tapi cuman jadi obrolan doang.. ya maaf nih, sampah. gak ada outputnya. cuman debat kusir. mending itu hasil obrolan segala macem dibikin kajian dengan prosedur yang tepat, disupport dengan lembaga-lembaga yang dianggap punya kuasa, terus disampaikan (iya, karena gue tau pemerintah juga kadang ngeliat mahasiswa tuh cuma butiran debu omong kosong makanya harus didukung lembaga punya kuasa lebih biar lebih berbobot.. padahal, menurut gue, ya kita itu pada dasarnya investasi negara. udah bagus masih peduli sama negara ini gak apatis)

"emang lo udah buat kontribusi apa?"
gue percaya, masing-masing kita ini punya jalur kontribusi masing-masing. tolong jangan menyalahkan jalur kontribusi yang lain. gue sepaham-pahamnya ada yang seneng cari prestasi, ada yang berkontribusi di perusahaan dengan magang, ada yang seneng volunteer, seneng ngajar, dan sebagainya. dan ada teman-teman kita yang berkontribusi dengan cara yang mungkin lebih agresif aja di luar sana. yang suka aksi, tolong jangan nuduh mahasiswa lain apatis. dan yang senengnya kontribusi di jalur lain, tolong jangan menuduh teman-teman yang aksi melakukan kegiatan yang sia-sia. ya intinya saling mendukung lah selama melakukan kegiatan yang masih sesuai sama tridharma..

"rakyat mana yang dibela?"
iya gue tau sih, kadang politik emang super konspirasi dan bahkan udah gak jelas lagi mana yang bener mana yang salah. udah campur tangan sama bisnis dan kepentingan sana-sini. dan bahkan LSM aja kadang ada dalangnya, dan gue juga bingung sendiri ini gue yang polos apa gimana. ya kalo ditanya rakyat mana yang dibela, ya kebijakan yang gak pro-rakyat kalo menurut gue ya yang perlu dibela, beserta ya mendorong kasus kasus yang 'gak gerak'. tapi gimana menilai pro-rakyat atau enggaknya ya harus liat secara jangka panjang juga. macem subsidi dll itu kalo ujung-ujungnya emang untuk pemerataan dan sebagainya, gue mah gak masalah. ya asal gak masuk ke kantong aja. tapi ya lagi-lagi bikin kebijakan publik gue yakin pemerintah harusnya udah tau caranya gimana, harusnya lebih pinter lah dari kita udah menimbang segala aspek.
dulu gue ikut aksi audiensi dan concern ke RUU Disabilitas ke kementerian pemberdayaan aparatur negara, tujuannya untuk membawa keadilan untuk teman-teman disabilitas kita yang seringkali dilihat sebelah mata dan tidak terfasilitasi haknya. ikut aksi Kekerasan Seksual ke mahkamah tinggi, tujuannya untuk adili Sitok, ya intinya kekerasan seksual secara undang-undang belum jelas hukumnya. terus aksi Hari Pendidikan.. UKT naik :( kuliah mahal :( suka sewenang-wenang bikin kebijakan kadang universitas juga. ya ada kebijakan kemenristekdikti yang ngurangin subsidi juga makanya kesana. terus sama Semen Kendeng karena buat perusahaan semen belum ada amdal yang jadi. niat temen-temen gue yang aksi itu harusnya memang niat yang baik dan tulus, harusnya manusia cari untung aja yang malu sama dirinya karena gak bisa ngasih sesuatu padahal udah kuliah sama uang rakyat. tapi lebih malu lagi buat kalian yang demo karena ada uang dibaliknya, bukan karena rakyat. mati aja mencoreng orang-orang yang niatnya memang ingin menyalurkan aspirasi. lha jadi marah.

kesimpulannya.. selama cara kontak paling mudah dengan pemerintah itu lewat audiensi, ya kenapa itu dilarang dan dianggap sebelah mata? selama caranya juga baik baik dan taat aturan ya.

sama satu lagi. pemimpin itu harus didukung. mau lo dukung atau gak dukung dia pas jaman kampanye. toh secara demokrasi (iya, voting, and its flaws) udah kepilih. ya dibantu lah sama-sama biar dia membuat kebijakan yang baik, biar membawa manfaat yang merata buat semua. ya dikritisin juga harus. tapi jangan sampe ngedukung dan ngekritisin saling debat dan tuduh-tuduhan. jangan sampe ngebelah yang dipimpin. karena lagi-lagi itu gak guna dan yang ada kalo kita gak bersatu, emang bisa maju? sama-sama objektif dan terbuka. gak boleh fanatik dukung dan gak boleh fanatik anti. jangan liat sosoknya, tapi liat apa yang sudah diperbuat. lagi-lagi, harus optimis sama pemerintah sendiri :)
selagi optimis, pupuk diri sebaik mungkin. kontribusi di jalur masing-masing. tunjukin kalau generasi kita bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. hehe aamin.

sekian opiniiiiiiiii gue

cheers,
deb





0 comment: